Blog

Berguru kepada Pak Sahlan Nawar

Sugeng Mulyono

 

Pak Nawar ini orang yang keras semasa mudanya, tidak main – main apabila sudah menyangkut urusan menanam padi. Berdedikasi tinggi dan cinta kepada pekerjaan nya ini.
Etos kerja ia persembahkan untuk seluruh sawahnya yang terbentang lebar 15 meter dan panjang 150 meter ( rata – rata para petani di jalur sawah tanjung belimbing memang memiliki luas petak sawah yang kurang lebih sama besar nya seperti yang dimiliki oleh pak sahlan ).

Satu hal yang membuat ia memutuskan untuk habis – habisan sebagai petani padi karena pengalaman pahit dijerat dan dihisap oleh praktek rentenir (salah satu dari tujuh setan desa).
Dan sampai hari ini pun praktek penghisapan yang dilakukan oleh rentenir di daerah ini kepada para petani masih merajalela, mereka memainkan harga, hutang dengan bunga (riba uang), monopoli rantai pasar sehingga petani tidak ada pilihan lain, cengkaraman system pengendalian ekonomi dengan cara memberikan jenis hutang bertingkat dari hutang sembako, naik lagi menjadi hutang bibit , hutang obat – obatan dan pupuk dan akhirnya masuk perangkap hutang modal yang semuanya harus dikembalikan secara berlipat dari hutang induk.

Tapi Pak sahlan cepat tersadarkan dengan keadaan yang menjepit dirinya disana – sini hutang yang hampir tak terbayarkan pada waktu itu oleh karena ia diingatkan dengan keras oleh seorang pandai agama yang memberitahukan bahwa meminjam dan bergantung kepada renternir sama dengan bershubahat dengan rentenir itu sendiri.

Nasehat ini dijadikan cambuk bagi pak sahlan untuk segera mengakhiri dan keluar dari penghispan ini. Jalan yang ia pilih adalah dengan cara memaksakan menanam padi setahun dua kali.
Dengan spekulasi panen pertama untuk melunasi jeratan hutang kepada rentenir dan hasil panen kedua untuk memulihkan modal dan sekedar bertahan hidup. Pada awalnya tidak ada yang mau mengikuti jejak pak sahlan yang dinilai petani lain bahkan keluarganya sendiri sebagai pemikiran yang keliru, mengada – ada dan tidak mungkin berhasil, banyak orang yang pesimis dan tidak yakin dengan rencanannya itu termasuk pihak dinas pertanian juga bersikap yang sama, kenangnya.

Ia terus saja bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya ini, dan akhirnya ini berhasil ia buktikan. Usaha pak sahlan ini ternyata di ketahui oleh Pak Camat Parnomo waktu itu, Ia datang dan memberikan bantuan alat – alat pertanian sebanyak 40 buah yang kemudian dibagi – bagikan kepada petani lain.

Kenapa pak sahlan yakin dengan kemungkinan dapat menanam padi satu tahun dua kali.? Pertama keinginan yang besar untuk dapat segera keluar dari praktek penghisapan rentenir jahat, kedua sikap nya yang tidak mau berhenti untuk belajar sehingga dilapangan ia secara manual memiliki kemampuan untuk memprediksi musim tanam yang pas dengan memperhatikan Bulan, Angin ( katanya ada tiga macam angin yang mesti diketahu yaitu angin selatan, angin utara dan angin barat ), cuaca panas ata hujan ( meraba – raba iklim rata – rata tahunan dan meraba – raba iklim local ditempat nya bertani ) dan melihat awan.

saya secara akademis prediksi – prediksi semacam ini seharusnya dikerjakan oleh kawan – kawan dari dinas pertanian yang mengerti tentang klimatologi, sehingga analisa mereka dapat dipergunakan sepenuhnya oleh para petani, tapi bersyukur lah ada petani seperti pak sahlan yang tidak selalu merepotkan dinas terkait. Saya ingin menegaskan apakah seharusnya dinas ini merasa bangga atau merasa malu terhadap pak Sahlan ?

selain itu pak sahlan juga di bantu oleh kearifan local yang sudah ada di sana yaitu mengerjakan dan mengelola sawah dengan cara berundoh atau berandep, artinya kekompakan di antara sesama petani padi untuk mengerjakan lahan tanam secara bersama – sama terus menerus bergiliran sampai semua lahan itu tergarap dengan baik, biasanya tradisi ini masih kuat dijaga di antara para petani yang memiliki hubungan kekerabatan.

Satu lagi kemampuan manual pak sahlan yang ia terapkan di lapangan yaitu teknis pengendalian hama dengan cara pengendalian mekanis, cara pengendalian kultur teknis (pergiliran varietas bibit yang ditanam) serta cara pengendalian biologis yaitu mencarikan musuh alamiah ( predator ) untuk melawan hama yang menyerang padinya. Tapi sayangnya , pertanian yang dijalani oleh pak sahlan masih belum sepenuhnya organik, percampuran antara organik dan anorganik, satu sisi mengandalkan bahan – bahan kimia sedangkan secara perlahan sudah memanfaatkan bahan dari alam yang sampai hari ini masih ia coba ( memanfaatkan kotoran sapi sebagai pupuk ) dan gagal ( pernah membuat pupuk bokasi namun tidak diteruskan ) pernah diajarkan namun setelah itu tanpa ada pendampingan apapun lagi.

Hasil produksi padi yang didapat oleh Pak sahlan untuk satu kali panen adat diketahui dengan menghitungnya dalam ukuran blek ( kaleng ukuran besar bekas menampung gula merah atau kopi ). Padi yang didapatkan dengan luas lahan yang telah disebutkan sebelumnya berkisar antara 100 blek – 130 blek dengan manajemen yang ia terapkan yaitu 3 blek disiapkan untuk bibit kembali, 10 blek diserahkan untuk zakat, 50 blek untuk memenuhi kebutuhan nasi keluarga dan 50 blek yang lain akan dijual yang kemudian uangnya di tabung, membiayai sekolah dan kuliah anak atau membeli bahan – bahan primer atau sekedar membeli barang sekunder yang dibutuhkan.

namun, untuk sebagian petani yang lain uang tersebut juga mereka investasikan dalam bentuk ternak baik itu untuk sapi maupun ayam, paling sedikit 1 KK di sini memiliki 2 ekor sapi. Melihat inisiatif yang bukan sekedar basa – basi oleh para petani untuk memajukan hidup dan kehidupannya tampaknya perlu support yang juga bukan basa – basi dari pemerintah daerah kabupaten kayong utara.

Soal – soal yang menyulitkan petani sewajarnya disegerakan untuk diatasi sehingga mereka mampu menjaga kedaulatan pangan bagi semua orang yang ada di kayong utara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *